kesana kemari untukmu

Sebatas Dapat Saja

Seperti apa kini berubah, 

Orang bikin pendapat juga komentar, 

Buat mengeja sebuah titik kemajuan, 

Ada sempat malu juga kudengar itu, 

Rasanya tentang sebuah mahakarya, 

Ya juga aneka rupa karya yang sedang buah bibir di berbagai platform..., 

Tidak kurang juga cara diri ini dalam menuang maksud, 

Sering kali hanya sangat sederhana, 

Itu yang baru bisa dikata, 

Seperti, " Ia pergi ke pasar. "

Tiada tampak kelebihan apa pun, seolah begitu saja dari waktu ke waktu, 

Dulu, bisa mengerti apa kata orang, mengangguk atau menggeleng terkadang sudah cukup, dan kini tidak lagi tampaknya,... Ini bukan tentang bicara denganmu, 

Karena banyak sekali yang kau tahu dibalik semua itu, bahkan rindu pun acap hanya dengan satu πŸ˜„πŸ’©πŸ‘», hingga aneka emoji bertemu di langit... πŸ”΅

Jajaran

Beranjak dari ketidaksejajaran

Barulah mulai sedikit kukenali 

Betapa pentingnya mengenalinya... 

Sejajar terkadang memang dibutuhkan

Walau tidak semudah mendudukan perkara

Juga tidak sesederhana menempatkan 

Sejumlah kursi pada jajarannya hingga lurus;


Senja itu, aku tidak menengadah untuk melihat bulan

Tidak pula aku lalu memilih berbaring atau rebah agar kenampakannya sampai, 

Lalu membiarkan cahaya mengisi beranda yang kian gelap itu, sama sekali tidak. 


Ujung yang runcing terasa dan bagai mengisi kisah terdalam, seusainya; pilahan setiap makna kian berlekuk dari setiap dentingan dawai tua yang dimainkan jemarimu dari hati dan penuh rasa, 

Dinding-dinding yang tegar berdiam, menjadi tempat paling setia dimana ia bergantung seolah ingin ikut meliukkan tariannya dalam setiap petikan nada yang lahir dari setiap getaran itu;

Bulan baru bernama, setelah melewati batas-batas pakai, pakaian ditanggalkan satu demi satu, bulan bernama sama, tidak berubah, seperti tahun lalu, ia silih berganti, ia mengatakan dengan setiap tanggal, menelanjangi angka dengan jumlah yang sedikit berbeda, andai ada bulan yang bernama lain, gumam mencandai bayangan dan hiasan dinding... 

Berapa minggu keberangkatanmu telah rela mengisi banyak cerita akan perjalanan jauh yang harus kau lalui, itulah bagian kekuatan yang membantu melawan kebosanan dan kesendirian harus menantimu di sini.... 

Totalitas dan Hitungan

Sepasang merpati terbang tinggi 

Keduanya dilepas bebas diwaktu pagi cerah 

Secerah wajah pembuka pintu sangkarnya....

Formasi terbangnya melukis dilangit bagai mereka ingin merenda cerita, tampak sekali sebagai pasangan lincah memilin lintasan dari setiap depa langit sebagai tangguhnya penjelajah dunianya...

Menit demi menit berselang, setelah jauh menggapai jelajah pagi hingga terkadang bagai menghilang dari pandangan mata namun mereka kembali beberapa saat kemudian.

Pembuka sarang kini terngiang, akan bagaimana cara leluhurnya sebenarnya telah lama punya cara sublimasi terdalam untuk pengajaran bagi generasi penerusnya,, bagian yang tidak sedikit menggapai sudut tempat  di  Antarctica; sepasang kehidupan yang banyak diceritakan dalam berbagai bahasa dan peristiwa.πŸ™ŒπŸ˜ŽπŸ˜±πŸ‘ΎπŸ’†

Cukupkah tanpa menghintung berapa cm , mereka telah menempuh jarak pagi itu?πŸ‘·


Bukan Hanya Bawaan

dua tiga kali terlalu sedikit
menyebut angka buatmu 
berulangnya uluran tangan 
sejak awal kenalan...
hingga sudah sangat jauh 
perjalanan kita...
Anggapan... ada 
Pandangan juga demikian 
kemarin ...
 Sudah, menjadi cerita ;
>>>>

Apa yang telah engkau katakan, 
Masih tersimpan bahkan semakin dalam, 
Ia telah menjadi celah juga pengisi 
Kenangan yang pantas berada... 

Di dalam sana, ia tidak lebih kecil dalam memberi arti bila disandingkan dengan setiap bawaanmu ; ia tidak mudah rusak, hilang atau menghilang; ia juga tetap memiliki daya di hati ini, 
Seperti kehadiranmu sendiri, 
Walau semua telah berlalu, 

Saat - saat dimana engkau harus berada jauh, semua itu terasa telah mendekatkan kita.... 🫒



 

 


menghilangkan - minat.

Mau cepat atau mau lambat....
Pernah sedikit tanya itu tertambat 
Keadaan telah mengendurkan 
Melepas jadi kebebasan sesaat 
Tak lain ... tak guna... mengisi umpat 
Setidaknya biar tidak menghambat

masih di sini 
Mengerti juga ingat 
Bila cintamu telah memasuki hati 
Tanpa terumbarnya seribu janji 
Padaku semua itu membuat hingga kini 
Tetap menantimu ...hingga saatnya 

Kanvas itu pun berdiam ...
Masih tetap kosong ;
Mengarah ke langit,
Tanpa Bergerak,
Bulu-bulu itu pun membisu,
Terhimpit pelat -pelat semu
Sewarna cermin terlekuk kekusaman,
Terasa apa pun sebagai enggan...

Scrolling beberapa waktu lalu...
Tidak lebih hanya menjumpa lusinan gunjing...
Menjemukan hingga memaksa berpaling...
Memilih pada banyak hal kecil 
Di tempat  ini tanpa lagi memusing 
Engkau pasti mengerti 
Akan setiap arti penantian ini....
Dalam jauh kuselami, hingga kutemukan hingga kupahami apa yang menjadi hakmu ;
Sebagaimana engkau telah sangat tahu, dan memberikannya padaku.... dalam kebebasan... juga rasa teraman untuk dapat bersama...
Meskipun keadaanmu tidak sedemikan mudah untuk dimengerti dalam banyak perubahan....


Sebutlah PERMADANI Cinta?




Di tengah sunyi, ruang ini bernafas sepi,

Hingga permadani tiba, hadiah dari hati.

Ia terhampar, seluas mata memandang,

Menyelimuti lantai, dingin yang dulu malang.

Setiap corak, ukiran yang begitu rinci,

Apakah ini kisahnya, dari negeri yang jauh?

Cahaya lampu temaram, kini berpendar beda,

Memantul di benang emas, sulaman yang tiada dua.

Meja kayu di sudut, yang dulu hanya terpaku,

Seolah ikut berbisik, bertanya padaku,

"Siapakah dia, yang menyentuh ruang ini

dengan kehangatan dan keindahan yang sejati?"

Dinding bisu, lukisan lama yang lusuh,

Tiba-tiba punya cerita baru untuk diusung.

Mereka seakan hidup, bersahutan riang,

Dengan motif permadani yang begitu terang.

Apakah ini sebuah pengakuan tersembunyi,

Bahwa kau melihat keindahan di dalam diriku?

Di setiap serat, aku mencari sebuah nama,

Di setiap warna, ku coba membaca makna.

Tak sekadar barang, ini lebih dari itu,

Ini sebuah ruang, yang kau beri nafas baru.

Mengapa aku, yang menerima keajaiban ini?

Pertanyaan itu, kini jadi melodi di hati.

Ruang ini, kini bukan lagi diriku sendiri,

Ada jejakmu, yang terlukis dalam permadani.

Kagum, haru, senang, semua jadi satu,

Namun pertanyaanmu, jauh lebih banyak dari itu.

Apakah ini cara, untuk mengatakan

'Aku melihatmu', ataukah 'Kau pantas dihargai'?



MADANI: Itu baru sama ia menyela seperti juga kemarin ia perlakukan dengan baik memberi hiburan tidak mau ia ikutan sekedar ramaian apalagi membuang...

Muter-Muter Sepulang Senam

Pagi-pagi sekali, saat cuaca sejuk dan segar

Ingin rasanya meneruskan langkah sedikit jauh, mengingat beberapa waktu yang lalu seorang teman menawarkan untuk bergabung senam di tempat itu ....

Rasanya tidak jauh, dengan menambah rute jalan pagi juga tambah kenalan di sana 

Pasti kalau kamu sudah hafal sekali tempat itu, karena ternyata di sana banyak yang bertanya tentangmu...

Balai pertemuan dimana sering ada pentas seni dan budaya di tempat itu, rupanya ramai sepagi itu baik pendatang maupun orang sekitar daerah itu 

Menariknya adalah sepulang dari sana, karena kupikir bisa mencoba jalan tikus biar lebih cepat...
Aduuuh ternyata jadi lama, muter-muter agak bingung juga.
Ada perumahan yang sampai aku lewatin dua kali sambil tengak-tengok kaya orang ...begok lah..
Ternyata ada ibu-ibu yang tanggap dan baik banget,
"Sepertinya anda mencari alamat, apa anda sedang tersesat, mungkin bisa saya bantu?"

"Oh ibu baik sekali, betul Bu saya sedang cari jalan pulang" sambil sedikit malu kujelaskan sedikit padanya.

"Sebentar!" , ibu itu masuk lalu mengeluarkan motor.
"Ayo saya anter, kebetulan saya mau keluar!"

Betul masih banyak orang baik, bahkan sekarang jadi tambah teman, rute lari sesekali bahkan sampai ke rumahnya buat say hello.
Kesalaham kecil kadang tidak jadi masalah ...

Menganggap Lagu Kepastian


Kau telah memilihkan sebuah lagu 

Lagu yang sangat menghiburku 

Ketika dapat berada didekatmu 

Ringan sekali melangkah kala itu

Bunga-bunga cinta begitu harum terasa sejak saat tiba dan berada di sana melewatkan saat bersama

Ini tentu bukan tentang mereka semua yang kebetulan memasuki bingkai kamera yang setia menemani 

Semua karena dirimu yang selalu memiliki cara indah menyapa dan membawaku memasuki semua situasi yang pernah kau janjikan untuk kau tunjukkan dan pasti memberikan kenangan terbaik buat kita berdua...

Dibelakangku engkau terus saja tanpa lelah menguarai cerita setiap ujung dan sudut, gedung, ruang, lorong, taman dan kanal hingga pintasan, sambil sesekali membelai rambutku..

Kubiarkan salah satu headset kau pindahkan di telingaku sambil berjalan , begitu enjoy rasanya mendengar syair itu kuanggap mewakili suara dirimu yang sedang mengatakan betapa kamu mencintai diriku apa adanya ...

Andai saja kau tahu, mengapa ajakan makan ketika itu masih kutolak tiada lain karena situasi blunder dan bius suasana dalam asmara, larut dalam lagu dan semua suasana, pukau dan keindaham tempat juga bagaimana setiap wajah memancarkan sapa yang terasa hangat. Mengusir semua keraguan tentangmu dan menggantinya dengan kepastian hati, kepastian untuk melangkah lebih jauh lagi.

Semua keadaan itu sangat berbalik dengan tempat terakhir yang kupandang, dimana hampir semua wajah memandang dengan dingin, membawa kebekuan sapa apalagi seolah semua menutup diri dan tidak mudah membuka celah bagi sembarang orang untuk sekedar bersapa bahkan untuk berbagi senyum.

Setiap sapamu sudah memudah  kemana kita mau melangkah, bersamamu seperti sudah ada penerang yang tidak pernah habis atau terputus hingga melewati jalan gelap..

Tidak lagi ada pilihan yang perlu kau buat, seperti kau putar saja lagu yang kau suka pun akan tetap kusuka..



 

Penghias Taman



Serasa ngobrol 

Ada didekat 

Dengan engkau di sana 

Mengitari taman kecil 

Hingga mendekati daun berhias 

Sepasang kepik yang tampak riang 

Cemburu dibuat saat memandang 

Cerianya berada berdua di hijau daun 

Tiada lintas dalam benak 

Atau memikir adanya  sebagai hama disana....

S3lain penghias suasana yang mengitari taman bunga...

Sementara gerimis yang akhir -akhir ini sering membasahi 

Seluruh permukaan tempatnya tiada datang lagi di sini....





Kelamaan Juga Nggak Enak



Mengapa dan mengapa sering mengalir menjadi tanya ...

Teriring dengan lengkapnya bagaimana melilit dan meletihkan hingga tetesan keringat tanpa terasa membasahi sekujur tubuh...

Meskipun itu semua baru dari dalamnya hati yang setia menantimu, terkadang datang sebagaimana kerinduan yang tidak mungkin bahkan tidak mungkin untuk dilarang.

Meneruskan kata itu kepadamu tidak lagi menjadi pilihan kini, menyadari betapa berat jadwal dan bebanmu hingga arah timbang tiada lain saat engkau telah kembali, ... 

Ini tampak fair, pun bila kaurasa tidak perlu memberikan jawaban, karena kutelah mengEnalmu akan terbaiknya langkah pasti yang dapat kau tempuh.

Menunggu terasa beda, hingga lama dan sebentar berelativitas sebagaimana engkau bicara tentangnya dengan banyak cara agar kumengerti, meskipun tetap saja... sulit buat dipahami selain menerimanya saja...

Meskipun konyol, bila dinalar...

Miss U....

Bagai Timbunan



Sesuai namanya 

Itu sudah substansial 

Melekat bayangan penutup 

Tidak jarang gundukan 

Meskipun tidak selalu demikian 

Ini bukan lemak di badan orang 

Yang karena kegemaran 

Atau ketidaksengajaan menimbun 

Banyak hal yang tidak kelihatan dari luar 

Adalah bukit-bukit yang tidak tinggi 

Hingga nampak seperti timbunan raksasa 

Kehijauannya menambah suasana jalanan 

Terasa diringankan oleh panorama ciptaannya...

Menerima saja... suguhan setiap langkah 

Kemana arah kita bersama tanpa lagi 

Perlu mencari -cari....

Semua seperti alam telah menyajikan..

Buat kita 

MπŸ“e , sLIM sUCh ... BEFORE

Memang itu harus kuakui 
Bagaimana tekat harus ada 
Bukan sembarang tekat 
Namun sebuah tekat yang keras 

Bentuk seperti datang sendiri 
Malam ke siang, siang ke malam 
Melatih dengan gerakan sederhana 
Beban secara berkala ditambah 
Naik kekuatan dan daya tahan 

Berani keluar keringat hingga lelah 
Karena itu seperti sebuah keharusan 
Apalagi tidak mungkin tanpa pengulangan 
Mulai pemanasan hingga pendinginan 
Jadi perjuangan terberat melawan kebosanan 
Juga perlu buatku untuk tetap bisa 
Memonitor durasi yang penting bagi kita 

Namun istirahat tetaplah sama pentingnya 

Di sini terasa sangat-sangat layak 
Sebagai pilihan yang luar biasa 
Teguk jeda ^_^^_^erasakan hasil 
Juga  memanjakan diri 
Biar badan senang hingga semakin bertahan...
Kembali sebagaimana sediannya keadaan 
Kelak kau pasti kan lihat hasilnya...
Bila katamu poto acap kali lebih bagus...
Tiap orang juga sering punya tipsnya masing masing kan buat bikin perubahan?



ВАНпича КАК срат ΠΎΡ‚ΠΎΠ―





Kini kurasakan
Karena pernah bersamamu
Keadaan semakin berangsur berubah
Kucoba mengeja hati yang harus jujur
Kau telah membuatku semakin mengerti

Ketika semua tidak dikatan disana yang tanpa suara lukisan itu
Kaulah yang sangat mengerti kisah dibalik semuanya itu

Sangat berarti mengenal dan bersamamu
Sangat berat juga ketika kita terkadang harus berjauhan
Yang bisa kulakukan setiap saat adalah
Engkau di dekat dan menguraikan banyak hal
Yang kujumpa di setiap tempat
Di dalam gedung-gedung mau pun di luar sana
Tanpa kupedulikan saat bersamamu
Meskipun keadaan menjadi lusuh dan kumal
terkena debu-debu jalanan....

Bingung Dibilang Sok


Untuk apa juga
Harus dibikin marah
Jika memang tidak tau
Maksud hanya bertanya
Mengapa juga dibilang sok

Hari berganti beda cerita
Diam tanpa bertanya
Ditengah rasa bimbang
Mendengar lagi celetuk sok

Masih ada yang lain
Waktu yang berbeda
Tahu sedikit hal dan cerita
Ada pula yang bilang sok

Lalu setelah semua berlalu
Baru ada yang ruang terbuka
Pengertian akan hari ini betul
Yang datang selalu sebelum besok

Lauk

Jangan dan tak usah
Untuk jadi ditertawakan
Lauk sekarang yang muncul
Dalam bayang pikiran kita
Itu jauh dari keadaan
Susana baru dan alam baru
Teman semua baru juga suasana
Dan keadaan serta bahasa demikian
Masih baru dan membingungkan
Bisa dikatakan begitu sederhana
Sambil tertawa dengan gembira
Berbalik diawal bersapa saat itu
"Lauk apa?"
Pertanyaan itu jadi menggelitik
Ketika wajah hanya menoleh
Kelautan yang berombak liar
Dikejauhan
"Lauk?"
Hua ha ha ha ka ka ka . ...
Ketidaktahuan yang ternyata
Bisa menghibur banyak orang


Dengar

Suara itu
Sempat mengagetkan
Karena berada do dekat meja
Kami yang baru mengerutkan dahi
Mencerna aneka skema penuh arti
"Kamu, tidak sendiri"
Sambil menunjuk kearah kami
Lalu ia pergi mengakhiri sesinya
Meninggalkan  kami yang masih bingung
Dan belum sepenuhnya menangkap isinya
Jadwal dan putaran jarum jam membuat
Kita harus berpisah dalam ketidaktahuan
Yang memadai untuk banyak mengayuh
Tujuan awal dengan secepat cepatnya
Dan belajar menyela dengan seadanya
Sambil menemukan arti kesabaran untuk
Menjadi nyata dihidupi oleh keadaan bersama walau di negeri orang, merasa tetap dekat dengan keluarga.

Bungkus

Tinggalkan
Apa yang kaulupukan
Bawa yang kau ingat
jangan lagi buang waktu
cintamu adalah cintamu
lindungi jika benar
sampul dengan keindahan
bungkus bila tetap
saja ingin kejelasan
kemas yang tercinta
sebagai kado untukmu
juga untuknya yang kau damba......

Senandung Kecil




Kangen aja
Kaya masih kecil
Biar aja ini gak mungkin
Tapi rasa seneng waktu maen
Seperti baru saja terjadi kemarin

Udah bukan lagi
Si kecil yang lucu
Bebas kesana kemari
Tanpa mikirin aneka tugas
Kadang kuliah bikin lelah



Ketat

Ketat: aneka pilihan mengartikan pemandangan bebas dari kata yang menarik ditemukan disana lalu datang kesini bukan pas, kebetulan atau k...



Tautan gambar






PERTAMA KALI - Film Pendek (Short Movie)

ya

Biar begitu 

Tapi 

Lincah 

Daripada 

Panjang 

cuma diem 

Kata lain 

Ada intinya 

Inti kata mereka 

Haruskah ditengah

Seperti titik pusat, Begitu?

Boleh -boleh saja 

Yang memaksa gitu 

Karena ada alasan 

Seperti semua orang 

Juga punya cara 

juga punya keterbatasan 

Hal lain 

Yang bikin enjoy semua 

Nyaman kerja 

Hasil bikin puas..

Masih apalagi tidaklah 

Selalu sesempurna gambaran awal 

Merasa bebas sudah tahun ketahun 

Namun tahun berganti tiada yang  merasa 

Sama dalam mudahnya menemukan inti dan dari setiap perputaran detik dan menit, tak kurang jumlah yang masih menganggap semua tetap sama...

Pengikut

Sebatas Dapat Saja

Seperti apa kini berubah,  Orang bikin pendapat juga komentar,  Buat mengeja sebuah titik kemajuan,  Ada sempat malu juga kudengar itu,  Ras...